bh185008
01-10-2007, 06:40 PM
Kesetiaan Christian Hadinata di Dunia Bulu Tangkis
Tak Mau Bisnis karena Takut Bangkrut
Bulu tangkis dan keluarga. Dua hal itulah yang mengisi kehidupan Christian Hadinata. Dari keahlian memainkan raket bulu tangkis, Christian mendapat penghasilan. Hingga usianya mencapai 57 tahun, bulu tangkis masih mengisi mayoritas waktunya.
Minggu (7/1) lalu Christian Hadinata tidak bisa menjalani rutinitasnya seperti biasa. Karena memiliki janji wawancara khusus dengan Jawa Pos, dia tidak bisa makan siang bersama keluarganya. "Berangkat saja dulu, nanti saya susul," pesan Christian kepada istrinya, Yoke Anwar.
Makan siang bersama keluarga pada hari Minggu adalah sesuatu yang istimewa bagi pria yang akrab disapa Koh Kris tersebut. Itu adalah satu-satunya kegiatan rutin yang dihabiskan bersama keluarganya. Selain itu, waktunya lebih banyak dihabiskan bersama "anaknya" di Pusat Bulu Tangkis Indonesia di Cipayung, Jakarta Timur. Ketika Jawa Pos mengajaknya untuk membahas kondisi terkini bulu tangkis tanah air, dia pun menjelaskan dengan bersemangat.
Indonesia memang memiliki banyak pebulu tangkis besar. Rudy Hartono, Tan Joe Hook, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, sampai Taufik Hidayat yang masih aktif. Namun, tipikal seorang Christian sangat sulit dicarikan pada pebulu tangkis lain. Bayangkan saja, 35 tahun mengabdikan diri untuk PBSI, semangatnya tidak pernah mengendur. Selain keluarga, bulu tangkis lah perhatian utama Christian.
Bandingkan dengan mayoritas pebulu tangkis Indonesia lainnya, baik yang masih aktif maupun yang tidak. Mereka memiliki memiliki banyak kesibukan lain di luar olahraga tepok bulu. Mulai membuka perusahaan peralatan olahraga, menjadi pengusaha minyak pelumas, maupun menjadi pengusaha jasa transportasi. Pelatih fisik legendaris Tahir Djide misalnya, dia juga menjabat guru besar di UPI Bandung. "Keinginan untuk memiliki usaha sih ada. Tapi, saya tidak berbakat untuk itu, karena itu saya lebih memilih untuk terus mengisi waktu di bulu tangkis," paparnya.
Christian adalah orang yang sulit menolak permintaan orang lain. Jika dia memiliki barang yang bagus, kerap kali barang tersebut diberikan pada orang lain yang memintanya. "Saya tidak mau berbisnis karena takut bangkrut. Jika membuka toko olahraga misalnya, saya bisa saja memberikan secara cuma-cuma kalau yang membeli adalah teman saya," seloroh Christian sambil tertawa.
Itu yang membuat Christian menjadikan bulu tangkis sebagai sisi utama kehidupannya. Sejak berkiprah sebagai pemain nasional 1971 sampai kini, dia tidak pernah bosan untuk berkeringat di tengah lapangan. Di usianya yang sudah begitu senja, dia tidak segan untuk langsung mendampingi pemainnya berlatih di lapangan.
Aktivitas lain yang cukup menyita waktu Christian adalah menonton siaran olahraga di televisi. Tidak hanya dilihat, partai besar biasanya dia rekam. Kini rekamannya mencapai ratusan buah yang disimpan di Cipayung. Ketika sedang senggang pada jeda latihan pagi dan sore, dia mengisi waktu menyaksikan rekaman yang dia miliki. "Mayoritas rekaman pertandingan yang saya miliki adalah sepak bola. Ada pula bulu tangkis, tenis, Formula 1, maupun MotoGP.
Sepak bola adalah olahraga favorit Christian selain bulu tangkis. Semasa kecil dia sering memainkan olahraga paling digemari di dunia tersebut. Alasannya sangat sederhana, karena sepak bola tidak perlu biaya banyak untuk memainkannya. Christian merasa banyak berhutang pada PB PBSI. Semua yang dia raih saat ini tidak lepas dari bulu tangkis. Selama masih dibutuhkan, dia akan terus ke Cipayung untuk membimbing "anaknya" berlatih.(nanang prianto)
Profil:
Nama: Christian Hadinata
Lahir: Purwokerto, 11 Desember 1949
Istri: Yoke Anwar
Anak: Mario Hadinata dan Mariska Hadinata
Tangan Bermain: Kanan
Pendidikan:
- SD Kristen, Purwokerto (1962)
- SMP Kristen, Purwokerto (1966)
- SMA Kristen, Purwokerto (1969)
- Fakultas Keguruan Ilmu Keolahragaan, IKIP Bandung (tingkat III, 1971
Karir pemain:
1971 : - Juara nasional berpasangan dengan Atik Jauhari
- Juara Asia berpasangan dengan Retno Kustijah.
1972 : - Juara All England berpasangan dengan Ade Chandra
1973 : - Juara All England berpasangan dengan Ade Chandra
1978 : - Juara Asian Games berpasangan dengan Ade Chandra
1979 : - Juara All England berpasangan dengan Imelda Wiguna
1980 : - Juara Dunia berpasangan dengan Ade Chandra
- Juara Dunia berpasangan dengan Imelda Wiguna
1981 : - Juara Jepang Terbuka berpasangan dengan Lius Pongoh
1982 : - Juara Aian Games berpasangan dengan Ivana Lie
1983 : - Juara All England berpasangan dengan Boby Ertanto
1984 : - Juara Indonesia Terbuka berpasangan dengan Boby Ertanto
- Juara Indonesia Terbuka berpasangan dengan Ivana Lie
1985 : - Juara Piala Dunia berpasangan dengan Ivana Lie
1972-1986:
Memperkuat Tim Piala Thomas selama enam kali dengan pasangan berganti-ganti (antara lain dengan HAdibowo, Liem Swie King).
Karir di luar pemain:
- Pelatih pelatnas (mulai 1985)
- Pengurus PB PBSI
- Direktur Pelatnas PBSI
- karyawan PT Djarum Kudus
Restoran Istri Jadi Langganan Pebulu Tangkis
Christian Hadinata beruntung beristrikan Yoke Anwar. Wanita berambut lurus itu selalu mendukung setiap aktivitas sang suami. Dia tidak pernah mengeluh, meski hari-hari Christian dihabiskan di Pelatnas Cipayung. Pada usia yang sudah menapak senja, dia tidak banyak menikmati kebersamaan dengan sang suami.
Untuk mengisi hari-harinya, Yoke menjalankan sebuah restoran di Jalan Panglima Polim, Jakarta, bernama Cangkir Cafe. Usaha tersebut mulai dirintis sekitar tiga tahun lalu. Setiap hari mulai pukul 10.00 WIB sampai 18.00 WIB dia menyibukkan diri di kafe tersebut. Nama kafe dipilih karena selain menyediakan makanan lezat, Cangkir Cafe juga bisa menjadi tempat asyik untuk tempat ngobrol. "Tidak seperti kafe kebanyakan, Cangkir Cafe tidak menjual minuman keras. Menu utama yang disediakan adalah makanan dan minuman," papar Christian.
Cangkir Cafe menyediakan aneka menu masakan, mulai dari makanan khas Indonesia sampai cita rasa Eropa. Untuk menu Indonesia ada makanan khas Bandung yaitu karedok. Spagetti adalah salah satu makanan khas Eropa yang tersedia. "Menu yang paling digemari adalah sate kambing. Kata pelanggan, sate kambing kami empuk seperti roti," tukas Yoke sambil tersenyum.
Dari dunia bulu tangkis Christian memiliki banyak kenalan. Hal itu menjadi salah satu keuntungan tersendiri bagi Cangkir Cafe. Banyak pebulu tangkis pelatnas yang mengajak serta keluarganya menikmati menu-menu spesial Cangkir Cafe. Salah satunya adalah keluarga besar Taufik Hidayat. "Pak Agum Gumelar (mertua Taufik, Red) paling senang makan sate kambing di restoran kami," cerita Christian.
Kehidupan keluarga Christian bisa dijadikan salah satu contoh atlet sukses Indonesia. Dia berhasil menyekolahkan kedua anaknya meraih sarjana di universitas luar negeri. Ketika kedua anaknya sudah sukses mendapatkan pekerjaan, dia tidak kehabisan semangat untuk terus mengabdi. Sementara Istri dan keluarganya selalu mendukung pengabdian Christian.(ang
Jual Rumah demi Pendidikan Anak
Perhatian yang begitu besar pada dunia bulu tangkis tidak membuat Christian Hadinata teledor dalam mengurusi keluarga. Dua anaknya, Mario dan Mariska, kini sudah mapan bekerja di salah satu bank dan perusahaan interior di Jakarta. Itu tidak terlepas dari bekal pendidikan yang diberikan sang bapak. "Saya sangat bersyukur Mario dan Mariska bisa menyelesaikan studinya dengan baik. Apalagi kini mereka sudah memiliki pekerjaan yang lumayan," papar Christian.
Mario dan Mariska beruntung menjadi anak seorang Christian Hadinata. Mereka bisa menikmati pendidikan yang sangat baik. Keduanya meraih gelar sarjana di salah satu universitas kenamaan di Perth, Australia.
Tidak mudah bagi Christian untuk mengantarkan anaknya menjadi sarjana di luar negeri. Meski selama bertahun-tahun merajai dunia, tidak banyak materi yang dia kumpulkan. pada era 1970-an sampai 1980-an, price money turnamen belum sebesar sekarang.
Agar Mario dan Mariska bisa menyelesaikan studi dengan baik, Christian sampai menjual rumahnya. Uangnya dipergunakan untuk membeli dua apartemen. Satu apartemen di Pondoh Indah yang ditempati sampai sekarang. Satu lagi di Australia, dibeli ditempati dua anaknya yang sedang belajar. "Itu harus kami lakukan karena biaya sewa rumah di sana sangat mahal," ungkap Christian.
Kini kedua anak Christian sudah memiliki pekerjaan yang layak. Christian pun tengah menunggu anaknya berkeluarga. Dia memiliki harapan agar cucunya kelak ada yan meneruskan kehebatannya sebagai pemain bulu tangkis. "Mario dan Mariska tidak terlalu suka bulu tangkis. Semoga saja cucu saya nanti ada yang seperti saya," harap Christian.
Punya Sentuhan Ajaib, Berbeda Pasangan Tetap Juara
Usai menjadi juara nasional pada 1971, mulai 1972, Christian Hadinata menjadi penghuni pemusatan latihan nasional (pelatnas). Karirnya sebagai pemain pelatnas cukup panjang sampai 1980-an. Dalam periode yang begitu panjang, Christian telah gonta-ganti pasangan.
Namun, Christian tidak mengalami masalah besar ketika harus berganti pasangan. Dia seolah memiliki sentuhan tangan ajaib yang mampu mengajak rekannya menjadi juara level dunia. Ade Chandra adalah pasangan legendaris Christian. Setidaknya sembilan kali mereka menjadi juara ganda tingkat dunia, termasuk di All England.
Ketika Ade Chandra mundur, Christian berpasangan dengan Tjuntjun. Pergantian itu tidak membuat pamor Christian menurun. Bersama Tjuntjun pada 1977 dia dianugerahi gelar "Pemain ganda terbesar dasawarsa ini" dalam konferensi olahraga dunia Malmoe, Swedia.
Christian juga tangguh ketika bermain di nomor ganda campuran. Bersama Imelda Wigoena dia sukses merebut gelar juara All England 1979 dan Asian Games 1982. Pasangan ganda campuran Christian lainnya adalah Lie Sumirat.
Sentuhan midas Christian juga ditunjukkan ketika dia menjadi pelatih. Dengan tangan dinginnya, Tony Gunawan/ Candra Wijaya, sukses merebut medali emas Olimpiade Sydney 2000. "Kunci sukses seorang atlet adalah stamina, mental, dan skill. Itu semua bisa diraih dengan kerja keras," papar Christian mengenai resep suksesnya.
Paling Rajin, Pangkat Naik, Enggan di Belakang Meja
Reshuffle kepengurusan PB PBSI periode 2004-2008 yang dilakukan Sabtu (6/1) lalu memberikan berkah tersendiri bagi Christian Hadinata. Pangkatnya di Pusat Bulu Tangkis Indonesia (PBI), Cipayung, Jakarta Timur, naik, dari koordinator ganda pria menjadi kasubid pelatnas. Kini dia memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan pada semua nomor.
Dia juga memiliki kewenangan untuk menentukan pengiriman atlet ke luar negeri. Pengelolaan pelatnas secara umum juga tugasnya. Mulai dari surat menyurat sampai pengelolaan sarana latihan. Namun, Christian merasa kurang cocok untuk mengemban misi struktural tersebut. "Biarlah saya bekerja yang berkeringat saja. Tugas di belakang meja biar dikerjakan Lius (Pongoh) saja," papar Christian. Lius Pongoh sebelumnya menjabat kasubid pelatnas. Kini dia naik pangkat menjadi kabid binpres.
Berdasarkan pemantauan Jawa Pos, Christian memang pelatih yang paling rajin. Dia menjadi pelatih pertama yang datang ke pelatnas, sebelum jam enam pagi. Dia masuk ke Cipayung ketika lampu lapangan belum dihidupkan. Dia juga baru pulang ketika lampu lapangan sudah dimatikan.
Christian juga tidak segan untuk turun langsung ke lapangan. Dia lebih banyak memberi contoh langsung, dari pada memberikan instruksi dengan perkataan. Masing-masing pelatih memang memiliki metode pelatihan tersendiri. Namun, dari segi keseriusan dan semangat yang ditunjukkan, Christian bisa disebut sebagai yang paling baik.
Dengan jabatan barunya, Christian harus berkeliling semua sisi lapangan. Sebelumnya, dia hanya memberikan fokus pada lapangan sektor tengah dimana ganda pria berlatih. "Saya akan lebih capek, namun saya lebih senang jika bisa memberikan sumbangsih yang besar untuk bulu yangkis tanah air," ujar Christian.
Tak Mau Bisnis karena Takut Bangkrut
Bulu tangkis dan keluarga. Dua hal itulah yang mengisi kehidupan Christian Hadinata. Dari keahlian memainkan raket bulu tangkis, Christian mendapat penghasilan. Hingga usianya mencapai 57 tahun, bulu tangkis masih mengisi mayoritas waktunya.
Minggu (7/1) lalu Christian Hadinata tidak bisa menjalani rutinitasnya seperti biasa. Karena memiliki janji wawancara khusus dengan Jawa Pos, dia tidak bisa makan siang bersama keluarganya. "Berangkat saja dulu, nanti saya susul," pesan Christian kepada istrinya, Yoke Anwar.
Makan siang bersama keluarga pada hari Minggu adalah sesuatu yang istimewa bagi pria yang akrab disapa Koh Kris tersebut. Itu adalah satu-satunya kegiatan rutin yang dihabiskan bersama keluarganya. Selain itu, waktunya lebih banyak dihabiskan bersama "anaknya" di Pusat Bulu Tangkis Indonesia di Cipayung, Jakarta Timur. Ketika Jawa Pos mengajaknya untuk membahas kondisi terkini bulu tangkis tanah air, dia pun menjelaskan dengan bersemangat.
Indonesia memang memiliki banyak pebulu tangkis besar. Rudy Hartono, Tan Joe Hook, Icuk Sugiarto, Joko Suprianto, sampai Taufik Hidayat yang masih aktif. Namun, tipikal seorang Christian sangat sulit dicarikan pada pebulu tangkis lain. Bayangkan saja, 35 tahun mengabdikan diri untuk PBSI, semangatnya tidak pernah mengendur. Selain keluarga, bulu tangkis lah perhatian utama Christian.
Bandingkan dengan mayoritas pebulu tangkis Indonesia lainnya, baik yang masih aktif maupun yang tidak. Mereka memiliki memiliki banyak kesibukan lain di luar olahraga tepok bulu. Mulai membuka perusahaan peralatan olahraga, menjadi pengusaha minyak pelumas, maupun menjadi pengusaha jasa transportasi. Pelatih fisik legendaris Tahir Djide misalnya, dia juga menjabat guru besar di UPI Bandung. "Keinginan untuk memiliki usaha sih ada. Tapi, saya tidak berbakat untuk itu, karena itu saya lebih memilih untuk terus mengisi waktu di bulu tangkis," paparnya.
Christian adalah orang yang sulit menolak permintaan orang lain. Jika dia memiliki barang yang bagus, kerap kali barang tersebut diberikan pada orang lain yang memintanya. "Saya tidak mau berbisnis karena takut bangkrut. Jika membuka toko olahraga misalnya, saya bisa saja memberikan secara cuma-cuma kalau yang membeli adalah teman saya," seloroh Christian sambil tertawa.
Itu yang membuat Christian menjadikan bulu tangkis sebagai sisi utama kehidupannya. Sejak berkiprah sebagai pemain nasional 1971 sampai kini, dia tidak pernah bosan untuk berkeringat di tengah lapangan. Di usianya yang sudah begitu senja, dia tidak segan untuk langsung mendampingi pemainnya berlatih di lapangan.
Aktivitas lain yang cukup menyita waktu Christian adalah menonton siaran olahraga di televisi. Tidak hanya dilihat, partai besar biasanya dia rekam. Kini rekamannya mencapai ratusan buah yang disimpan di Cipayung. Ketika sedang senggang pada jeda latihan pagi dan sore, dia mengisi waktu menyaksikan rekaman yang dia miliki. "Mayoritas rekaman pertandingan yang saya miliki adalah sepak bola. Ada pula bulu tangkis, tenis, Formula 1, maupun MotoGP.
Sepak bola adalah olahraga favorit Christian selain bulu tangkis. Semasa kecil dia sering memainkan olahraga paling digemari di dunia tersebut. Alasannya sangat sederhana, karena sepak bola tidak perlu biaya banyak untuk memainkannya. Christian merasa banyak berhutang pada PB PBSI. Semua yang dia raih saat ini tidak lepas dari bulu tangkis. Selama masih dibutuhkan, dia akan terus ke Cipayung untuk membimbing "anaknya" berlatih.(nanang prianto)
Profil:
Nama: Christian Hadinata
Lahir: Purwokerto, 11 Desember 1949
Istri: Yoke Anwar
Anak: Mario Hadinata dan Mariska Hadinata
Tangan Bermain: Kanan
Pendidikan:
- SD Kristen, Purwokerto (1962)
- SMP Kristen, Purwokerto (1966)
- SMA Kristen, Purwokerto (1969)
- Fakultas Keguruan Ilmu Keolahragaan, IKIP Bandung (tingkat III, 1971
Karir pemain:
1971 : - Juara nasional berpasangan dengan Atik Jauhari
- Juara Asia berpasangan dengan Retno Kustijah.
1972 : - Juara All England berpasangan dengan Ade Chandra
1973 : - Juara All England berpasangan dengan Ade Chandra
1978 : - Juara Asian Games berpasangan dengan Ade Chandra
1979 : - Juara All England berpasangan dengan Imelda Wiguna
1980 : - Juara Dunia berpasangan dengan Ade Chandra
- Juara Dunia berpasangan dengan Imelda Wiguna
1981 : - Juara Jepang Terbuka berpasangan dengan Lius Pongoh
1982 : - Juara Aian Games berpasangan dengan Ivana Lie
1983 : - Juara All England berpasangan dengan Boby Ertanto
1984 : - Juara Indonesia Terbuka berpasangan dengan Boby Ertanto
- Juara Indonesia Terbuka berpasangan dengan Ivana Lie
1985 : - Juara Piala Dunia berpasangan dengan Ivana Lie
1972-1986:
Memperkuat Tim Piala Thomas selama enam kali dengan pasangan berganti-ganti (antara lain dengan HAdibowo, Liem Swie King).
Karir di luar pemain:
- Pelatih pelatnas (mulai 1985)
- Pengurus PB PBSI
- Direktur Pelatnas PBSI
- karyawan PT Djarum Kudus
Restoran Istri Jadi Langganan Pebulu Tangkis
Christian Hadinata beruntung beristrikan Yoke Anwar. Wanita berambut lurus itu selalu mendukung setiap aktivitas sang suami. Dia tidak pernah mengeluh, meski hari-hari Christian dihabiskan di Pelatnas Cipayung. Pada usia yang sudah menapak senja, dia tidak banyak menikmati kebersamaan dengan sang suami.
Untuk mengisi hari-harinya, Yoke menjalankan sebuah restoran di Jalan Panglima Polim, Jakarta, bernama Cangkir Cafe. Usaha tersebut mulai dirintis sekitar tiga tahun lalu. Setiap hari mulai pukul 10.00 WIB sampai 18.00 WIB dia menyibukkan diri di kafe tersebut. Nama kafe dipilih karena selain menyediakan makanan lezat, Cangkir Cafe juga bisa menjadi tempat asyik untuk tempat ngobrol. "Tidak seperti kafe kebanyakan, Cangkir Cafe tidak menjual minuman keras. Menu utama yang disediakan adalah makanan dan minuman," papar Christian.
Cangkir Cafe menyediakan aneka menu masakan, mulai dari makanan khas Indonesia sampai cita rasa Eropa. Untuk menu Indonesia ada makanan khas Bandung yaitu karedok. Spagetti adalah salah satu makanan khas Eropa yang tersedia. "Menu yang paling digemari adalah sate kambing. Kata pelanggan, sate kambing kami empuk seperti roti," tukas Yoke sambil tersenyum.
Dari dunia bulu tangkis Christian memiliki banyak kenalan. Hal itu menjadi salah satu keuntungan tersendiri bagi Cangkir Cafe. Banyak pebulu tangkis pelatnas yang mengajak serta keluarganya menikmati menu-menu spesial Cangkir Cafe. Salah satunya adalah keluarga besar Taufik Hidayat. "Pak Agum Gumelar (mertua Taufik, Red) paling senang makan sate kambing di restoran kami," cerita Christian.
Kehidupan keluarga Christian bisa dijadikan salah satu contoh atlet sukses Indonesia. Dia berhasil menyekolahkan kedua anaknya meraih sarjana di universitas luar negeri. Ketika kedua anaknya sudah sukses mendapatkan pekerjaan, dia tidak kehabisan semangat untuk terus mengabdi. Sementara Istri dan keluarganya selalu mendukung pengabdian Christian.(ang
Jual Rumah demi Pendidikan Anak
Perhatian yang begitu besar pada dunia bulu tangkis tidak membuat Christian Hadinata teledor dalam mengurusi keluarga. Dua anaknya, Mario dan Mariska, kini sudah mapan bekerja di salah satu bank dan perusahaan interior di Jakarta. Itu tidak terlepas dari bekal pendidikan yang diberikan sang bapak. "Saya sangat bersyukur Mario dan Mariska bisa menyelesaikan studinya dengan baik. Apalagi kini mereka sudah memiliki pekerjaan yang lumayan," papar Christian.
Mario dan Mariska beruntung menjadi anak seorang Christian Hadinata. Mereka bisa menikmati pendidikan yang sangat baik. Keduanya meraih gelar sarjana di salah satu universitas kenamaan di Perth, Australia.
Tidak mudah bagi Christian untuk mengantarkan anaknya menjadi sarjana di luar negeri. Meski selama bertahun-tahun merajai dunia, tidak banyak materi yang dia kumpulkan. pada era 1970-an sampai 1980-an, price money turnamen belum sebesar sekarang.
Agar Mario dan Mariska bisa menyelesaikan studi dengan baik, Christian sampai menjual rumahnya. Uangnya dipergunakan untuk membeli dua apartemen. Satu apartemen di Pondoh Indah yang ditempati sampai sekarang. Satu lagi di Australia, dibeli ditempati dua anaknya yang sedang belajar. "Itu harus kami lakukan karena biaya sewa rumah di sana sangat mahal," ungkap Christian.
Kini kedua anak Christian sudah memiliki pekerjaan yang layak. Christian pun tengah menunggu anaknya berkeluarga. Dia memiliki harapan agar cucunya kelak ada yan meneruskan kehebatannya sebagai pemain bulu tangkis. "Mario dan Mariska tidak terlalu suka bulu tangkis. Semoga saja cucu saya nanti ada yang seperti saya," harap Christian.
Punya Sentuhan Ajaib, Berbeda Pasangan Tetap Juara
Usai menjadi juara nasional pada 1971, mulai 1972, Christian Hadinata menjadi penghuni pemusatan latihan nasional (pelatnas). Karirnya sebagai pemain pelatnas cukup panjang sampai 1980-an. Dalam periode yang begitu panjang, Christian telah gonta-ganti pasangan.
Namun, Christian tidak mengalami masalah besar ketika harus berganti pasangan. Dia seolah memiliki sentuhan tangan ajaib yang mampu mengajak rekannya menjadi juara level dunia. Ade Chandra adalah pasangan legendaris Christian. Setidaknya sembilan kali mereka menjadi juara ganda tingkat dunia, termasuk di All England.
Ketika Ade Chandra mundur, Christian berpasangan dengan Tjuntjun. Pergantian itu tidak membuat pamor Christian menurun. Bersama Tjuntjun pada 1977 dia dianugerahi gelar "Pemain ganda terbesar dasawarsa ini" dalam konferensi olahraga dunia Malmoe, Swedia.
Christian juga tangguh ketika bermain di nomor ganda campuran. Bersama Imelda Wigoena dia sukses merebut gelar juara All England 1979 dan Asian Games 1982. Pasangan ganda campuran Christian lainnya adalah Lie Sumirat.
Sentuhan midas Christian juga ditunjukkan ketika dia menjadi pelatih. Dengan tangan dinginnya, Tony Gunawan/ Candra Wijaya, sukses merebut medali emas Olimpiade Sydney 2000. "Kunci sukses seorang atlet adalah stamina, mental, dan skill. Itu semua bisa diraih dengan kerja keras," papar Christian mengenai resep suksesnya.
Paling Rajin, Pangkat Naik, Enggan di Belakang Meja
Reshuffle kepengurusan PB PBSI periode 2004-2008 yang dilakukan Sabtu (6/1) lalu memberikan berkah tersendiri bagi Christian Hadinata. Pangkatnya di Pusat Bulu Tangkis Indonesia (PBI), Cipayung, Jakarta Timur, naik, dari koordinator ganda pria menjadi kasubid pelatnas. Kini dia memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan pada semua nomor.
Dia juga memiliki kewenangan untuk menentukan pengiriman atlet ke luar negeri. Pengelolaan pelatnas secara umum juga tugasnya. Mulai dari surat menyurat sampai pengelolaan sarana latihan. Namun, Christian merasa kurang cocok untuk mengemban misi struktural tersebut. "Biarlah saya bekerja yang berkeringat saja. Tugas di belakang meja biar dikerjakan Lius (Pongoh) saja," papar Christian. Lius Pongoh sebelumnya menjabat kasubid pelatnas. Kini dia naik pangkat menjadi kabid binpres.
Berdasarkan pemantauan Jawa Pos, Christian memang pelatih yang paling rajin. Dia menjadi pelatih pertama yang datang ke pelatnas, sebelum jam enam pagi. Dia masuk ke Cipayung ketika lampu lapangan belum dihidupkan. Dia juga baru pulang ketika lampu lapangan sudah dimatikan.
Christian juga tidak segan untuk turun langsung ke lapangan. Dia lebih banyak memberi contoh langsung, dari pada memberikan instruksi dengan perkataan. Masing-masing pelatih memang memiliki metode pelatihan tersendiri. Namun, dari segi keseriusan dan semangat yang ditunjukkan, Christian bisa disebut sebagai yang paling baik.
Dengan jabatan barunya, Christian harus berkeliling semua sisi lapangan. Sebelumnya, dia hanya memberikan fokus pada lapangan sektor tengah dimana ganda pria berlatih. "Saya akan lebih capek, namun saya lebih senang jika bisa memberikan sumbangsih yang besar untuk bulu yangkis tanah air," ujar Christian.