taufik-ist
08-28-2007, 09:11 AM
he..he
could you (krisna,robin7,huang,anyone) :) translate news below ?
source: http://bolanews.com/edisi-cetak/bultang2.htm
Kemelut di BWF
Ancaman Bagi Bulutangkis
Saat final kejuaraan dunia bulutangkis berlangsung (Minggu 19/8), di tribun atas Stadion Putra Bukit Jalil, Kuala Lumpur terpampang spanduk bertuliskan “Punch Should Quit” yang dibawa penonton. Siapa pun yang membaca tulisan itu paham spanduk tersebut ditujukan kepada Datuk Punch Gunalan, tokoh bulutangkis Malaysia yang juga deputi Presiden Eksekutif BWF (Badminton World Federation).
Nama Punch merebak kurang sedap selama kejuaraan dunia. Hal itu disebabkan banyak kasus yang melibatkan dirinya, baik dalam BWF ataupun di tubuh BAM (Asosiasi Bulutangkis Malaysia). Mulai dari tindakan pemecatannya terhadap Ganga Rao, Direktur Operasional BWF pada 4 Juni karena Ganga bersikap berseberangan dengan Punch dalam mengelola BWF, hingga kasus pemindahan kantor pusat BWF dari Cheltenham, Inggris, ke Kuala Lumpur, Malaysia, yang diduga sarat permainan.
Kasus Punch versus Ganga Rao tengah berjalan di pengadilan Malaysia. Apalagi dalam sengketa itu ada dugaan pembobolan file-file pribadi milik Ganga. Namun, kasus pemindahan kantor BWF ke KL terus bergulir. Sampai-sampai, Menteri Belia dan Sukan Datuk Azalina Othman Said ikut tersangkut paut.
Hasil itu disebabkan pemindahan kantor BWF ke KL sarat dengan janji-janji Punch, yang mengatasnamakan BAM, kepada BWF yang tidak dipenuhi. Saat pencalonan KL jadi markas BWF pada 2004, Punch menjanjikan bahwa pemerintah Malaysia akan memberikan bantuan 500 ribu ringgit (sekitar Rp 1,25 miliar) setiap tahun selama empat tahun kepada BWF.
Punch juga berjanji bisa mendapatkan sponsor 100 ribu dolar AS dari Petronas, tiket pesawat dari Malaysia Airlines 150 ribu dolar AS setiap tahun selama empat tahun bagi kegiatan operasional staf dan pegawai BWF, akomodasi, kantor, kendaraan, bebas cukai dari pemerintah, izin kerja, serta membangun pusat latihan bulutangkis BWF di KL.
Konflik
Namun, janji-janji itu tidak terpenuhi setelah tiga tahun BWF beroperasi di KL. Bahkan, kini pemerintah Malaysia menanggung malu karena dituduh melanggar janji itu. “Kami sudah memanggil Punch dan ia beralasan bahwa pergantian kepala negara di Malaysia serta pemimpin di perusahaan-perusahaan yang disebutkan itu menjadi sebab gagalnya janji-janji. Namun, ia tetap harus mempertanggungjawabkannya,” jelas Azalina.
Meski dalam konfrensi pers di Stadion Putra Bukit Jalil, Jumat (17/8) Presiden BWF, Young Joong Kang, tidak menunjuk nama Punch, ia menjelaskan bahwa kekuasaan beberapa orang yang berpengaruh dalam dewan eksekutif membuat BWF kini penuh konflik.
“Bahkan mereka punya agenda tersembunyi dan menjadikan posisi saya bersifat seremonial semata. Sejak saya mengalami mosi tidak percaya saat pertemuan dewan eksekutif di Glasgow tahun lalu, saya tahu bahwa peraturan BWF sudah dimainkan segelintir orang,” katanya.
Punch sendiri saat menjelaskan posisi terkini, bersama beberapa tokoh di BWF, seperti Robin Bryant dan V.K. Verma (dua Wakil Presiden BWF) serta Roger Johansson dan Anne Smille (dua anggota dewan), menyatakan bahwa tidak ada kudeta dalam tubuh BWF. “Semua keputusan dibuat anggota dewan yang berjumlah 24 orang. Termasuk sikap mosi tidak percaya. Bukan saya yang mengontrol organisasi ini,” jelasnya.
Yang pasti kemelut di BWF membuat organisasi itu tengah disorot IOC (Komite Olimpiade Internasional). Jika hal ini tak segera selesai, nasib bulutangkis di Olimpiade London 2012 dan juga setelahnya akan terancam. (dede)
could you (krisna,robin7,huang,anyone) :) translate news below ?
source: http://bolanews.com/edisi-cetak/bultang2.htm
Kemelut di BWF
Ancaman Bagi Bulutangkis
Saat final kejuaraan dunia bulutangkis berlangsung (Minggu 19/8), di tribun atas Stadion Putra Bukit Jalil, Kuala Lumpur terpampang spanduk bertuliskan “Punch Should Quit” yang dibawa penonton. Siapa pun yang membaca tulisan itu paham spanduk tersebut ditujukan kepada Datuk Punch Gunalan, tokoh bulutangkis Malaysia yang juga deputi Presiden Eksekutif BWF (Badminton World Federation).
Nama Punch merebak kurang sedap selama kejuaraan dunia. Hal itu disebabkan banyak kasus yang melibatkan dirinya, baik dalam BWF ataupun di tubuh BAM (Asosiasi Bulutangkis Malaysia). Mulai dari tindakan pemecatannya terhadap Ganga Rao, Direktur Operasional BWF pada 4 Juni karena Ganga bersikap berseberangan dengan Punch dalam mengelola BWF, hingga kasus pemindahan kantor pusat BWF dari Cheltenham, Inggris, ke Kuala Lumpur, Malaysia, yang diduga sarat permainan.
Kasus Punch versus Ganga Rao tengah berjalan di pengadilan Malaysia. Apalagi dalam sengketa itu ada dugaan pembobolan file-file pribadi milik Ganga. Namun, kasus pemindahan kantor BWF ke KL terus bergulir. Sampai-sampai, Menteri Belia dan Sukan Datuk Azalina Othman Said ikut tersangkut paut.
Hasil itu disebabkan pemindahan kantor BWF ke KL sarat dengan janji-janji Punch, yang mengatasnamakan BAM, kepada BWF yang tidak dipenuhi. Saat pencalonan KL jadi markas BWF pada 2004, Punch menjanjikan bahwa pemerintah Malaysia akan memberikan bantuan 500 ribu ringgit (sekitar Rp 1,25 miliar) setiap tahun selama empat tahun kepada BWF.
Punch juga berjanji bisa mendapatkan sponsor 100 ribu dolar AS dari Petronas, tiket pesawat dari Malaysia Airlines 150 ribu dolar AS setiap tahun selama empat tahun bagi kegiatan operasional staf dan pegawai BWF, akomodasi, kantor, kendaraan, bebas cukai dari pemerintah, izin kerja, serta membangun pusat latihan bulutangkis BWF di KL.
Konflik
Namun, janji-janji itu tidak terpenuhi setelah tiga tahun BWF beroperasi di KL. Bahkan, kini pemerintah Malaysia menanggung malu karena dituduh melanggar janji itu. “Kami sudah memanggil Punch dan ia beralasan bahwa pergantian kepala negara di Malaysia serta pemimpin di perusahaan-perusahaan yang disebutkan itu menjadi sebab gagalnya janji-janji. Namun, ia tetap harus mempertanggungjawabkannya,” jelas Azalina.
Meski dalam konfrensi pers di Stadion Putra Bukit Jalil, Jumat (17/8) Presiden BWF, Young Joong Kang, tidak menunjuk nama Punch, ia menjelaskan bahwa kekuasaan beberapa orang yang berpengaruh dalam dewan eksekutif membuat BWF kini penuh konflik.
“Bahkan mereka punya agenda tersembunyi dan menjadikan posisi saya bersifat seremonial semata. Sejak saya mengalami mosi tidak percaya saat pertemuan dewan eksekutif di Glasgow tahun lalu, saya tahu bahwa peraturan BWF sudah dimainkan segelintir orang,” katanya.
Punch sendiri saat menjelaskan posisi terkini, bersama beberapa tokoh di BWF, seperti Robin Bryant dan V.K. Verma (dua Wakil Presiden BWF) serta Roger Johansson dan Anne Smille (dua anggota dewan), menyatakan bahwa tidak ada kudeta dalam tubuh BWF. “Semua keputusan dibuat anggota dewan yang berjumlah 24 orang. Termasuk sikap mosi tidak percaya. Bukan saya yang mengontrol organisasi ini,” jelasnya.
Yang pasti kemelut di BWF membuat organisasi itu tengah disorot IOC (Komite Olimpiade Internasional). Jika hal ini tak segera selesai, nasib bulutangkis di Olimpiade London 2012 dan juga setelahnya akan terancam. (dede)